pemerintah sumberejo berinisiatif melakukan penghijauan i sekitar kawah timbang.mungkin cara ini yang baik untuk jangka kedepan .
"Memang ada rencana untuk menghijaukan ladang dekat kawah. Penanaman pohon itu dimaksudkan untuk menyerap emisi CO2 yang berasal dari kawah. Dan dapat menjadi sekat penghalang jika Timbang mengeluarkan gas beracun kembali," kata Pejabat Sementara Kepala Desa Sumberejo, Ibrahim saat dihubungi Radar Banyumas, kemarin (13/6).
Untuk mewujudkan rencana itu, kata dia, desa membutuhkan bantuan bibit tanaman keras. Seperti Ecalyptus dean jenis yang lain. Dan pohon-pohon tersebut rencananya akan ditanam diantara ladang pertanian warga. "Kami butuh bantuan bibit tanaman keras, kurang lebih sekitar 20 ribu bibit pohon," kata Ibrahim.
Bukan hanya penanaman dengan cara selang-seling diantara lahan pertanian warga. Rencanannya sekitar Kawah Timbang juga akan dihijaukan.
"Rencananya alam akan kembali seperti dahulu, namun juga tanpa mengurangi dan mengganggu lahan produktif warga. Semoga media juga dapat membantu bibit tanaman," paparnya.
Dulunya, dikatakan Ibrahim, sekitar kawah terdapat banyak tanaman keras. Namun karena pembukaan lahan, tanaman itu ditebangi penduduk. Ia berharap rencana penghijauan dapat meredam penyebaran laju gas beracun.
Rencana penghijauan itu rupanya juga sudah menjadi rencana Bupati Banjarnegara, Drs Ir Djasri MM MT. Usai rapat evaluasi masa tanggap darurat, bupati mengaku sudah memikirkan soal rencana penghijauan tersebut.
Lokasi Kawah Timbang yang berada di kawasan dataran tinggi Dieng saat ini memang tidak mencerminkan kawasan pegunungan yang sewajarnya hijau. Di sana tidak terdapat tanaman khas hutan yang disebabkan semburan gas beracun Kawah Sinilah, 22 tahun silam.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Dr Surono mengatakan, meskipun pepohonan rindang masih banyak, akan tetapi tanaman itu tidak mampu berbuat banyak mengahalangi sebaran hembusan gas beracun (CO2) saat Kawah Sinila meletus dan Kawah Timbang mengeluarkan gas beracunnya.
Dia mengibaratkan, apabila kejadian itu terjadi pada saat ini (saat Kawah Timbang aktif-red), sudah tidak ada penghalang lagi bagi persebaran gas beracun yang dikeluarkan. "Gas yang dihembuskan akan langsung keluar terbawa angin, tidak ada pepohonan penghalang atau yang dapat menyerap gas beracun tersebut. Kondisi ini memprihatinkan," katanya.
Mbah Rono, biasa pria bergelar doktor itu disapa, mengatakan, Kawah Timbang yang masih dalam status waspada haya beberapa menit saja ternjangkau dari pemukiman penduduk Dusun Simbar Desa Sumberejo. Saat ini, kata dia, hanya ladang-ladang komoditas warga yang menjadi sekat antara perkampungan dengan sang sumber bencana.
Kawah Timbang di Dusun Simbar merupakan salah satu dari 10 kawah di Dataran Tinggi Dieng yang masih aktif. Pada tahun 1979, gas beracun dari kawah ini pernah mengakibatkan 149 orang tewas, peristiwa tersebut dikenal dengan Tragedi Sinila.
Jauh sebelum itu, menurut data yang dihimpun Radar Banyumas, Kawah Timbang juga mempunyai sejarah letusan hebat. Pada tahun 1928 kawah tersebut erupsi dan menimbulkan 10 korban jiwa. Kemudian Tahun 1939 Timbang kembali erupsi dan 38 orang tewas dalam peristiwa tersebut.
sumber : radarbanyumas
Categories:
BANJARNEGARA,
BERITA


